Saf Angker

oleh: Alfiandana

Di bulan Ramadan, tidur di masjid lebih mengasikkan dibanding tidur di rumah. Dan hanya di bulan Ramadan pula, aku dan teman-teman bisa tidur beramai-ramai di masjid. Meski suasana tidur di masjid tidak selalu menyenangkan, tapi kami tetap memilih tidur di masjid. Bukan hanya
perkara kami harus tidur berhimpitan dan berebut tempat di tengah ruangan. Tidur di masjid tak jarang juga menyeramkan. Apalagi masjid kami terkenal angker. Dan di sebelah masjid, terdapat rumpun bambu. Jika angin berhembus, suara deritnya mampu bikin bulu kuduk berdiri. Akibatnya, dari ujung kaki sampai kepala kami harus berbungkus sarung. Jangan sampai ada celah sedikitpun, sebab itu bisa jadi jalan masuk, entah apa. Pokoknya harus tertutup rapat! Jika dari luar tiba-tiba terdengar suara debam, seperti sesuatu jatuh dari pohon. Sudah tentu tak ada satu pun dari kami yang berani menengoknya.

Tapi ada yang lebih menyeramkan dari itu semua. Sebuah cerita yang turun temurun dipercaya anak-anak yang tidur di masjid. Tak boleh ada anak yang tidur di bagian depan, di saf imam.

Konon kabarnya jika ada yang berani tidur di saf imam, maka keesokan harinya dia tidak akan berada di tempat yang sama lagi. Ia dipindah jin. Cerita kakakku, dulu temannya mencoba tidur di saf imam. Ketika menjelang sahur, dia terbangun di rumpun bambu di sebelah masjid. Ada yang terbangun dan berada di luar masjid, bahkan di atap masjid. Kami percaya, tidak sopan jika tidur di saf imam. Bisa membuat jin marah. Jadi tengah malam, jin akan memindahkan siapa saja yang berani tidur di sana.

Tapi malam itu Jarot nekat tidur di saf imam. Kata Jarot, tidur di saf imam lebih hangat. “Aku tidak takut dengan jin. Kalau ada jin, akan kutantang dia berkelahi,” kata Jarot dengan angkuhnya. Jarot dikenal sebagai anak yang paling berani di antara kami. Lebih tepatnya, paling bandel. Kami sudah mencoba mengingatkan Jarot. Tapi dia keras kepala. Malam itu, dia nekat tidur di saf imam.

Karena cemas, kami jadi tak bisa tidur. Tapi di antara kami juga tak ada yang berani melihat kondisi Jarot. Kami seperti memikirkan hal yang sama, ke mana Jarot akan dipindahkan oleh jin? Di tengah kecemasan, aku mendengar suara langkah kaki berjalan menuju saf imam. Aku semakin merinding. Tapi aku mendengar suara bisik seperti orang yang sedang bercakap-cakap pelan. Dengan perasaan takut, aku mengintip dari celah sarung. Astaga!! Aku melihat kakakku dan dua temannya sedang menggotong tubuh Jarot. Mereka membawa Jarot ke luar masjid. Aku tak tahu mereka akan membawa Jarot kemana. 

Alfiandana

Dilahirkan di Klaten. Suka jalan-jalan lalu tersesat. Sejak kecil ingin bisa bicara dengan binatang.

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.