Pak Guru, Bu Guru, Tengoklah Anak yang Tersisih Itu

oleh: Abul Muamar

Anak itu menyusun batu-batu bata sendirian. Dua batu diletakkannya secara horizontal dengan posisi tergeletak, dua batu lain ditaruhnya di atasnya secara vertikal dengan posisi tegak. Ia melakukannya tanpa tergesa. Ditumpuknya batu-batu itu dengan hati-hati agar berdiri kokoh. Begitu terus dilakukannya, hingga tumpukan batu itu tinggi setinggi pahanya.

Tak jauh dari anak itu, anak-anak lain riang gembira dan bermain bersama. Begitu tumpukan batunya berdiri tegak, anak-anak lain yang melihatnya langsung menghampirinya, dan menumbangkan tumpukan batu itu dengan sekali tendang, lalu mereka tertawa keras-keras.

Anak itu tak marah—atau setidaknya, ia tidak menunjukkan tanda-tanda marah. Ia bangun ulang menara batu batanya. Setelah berdiri, menaranya ditumbangkan lagi oleh temannya, dibangunnya lagi, dan ditumbangkan lagi oleh temannya. Anak itu tetap tertawa—meskipun tampak menyedihkan—menghadapi kelakuan teman-temannya.

Saya menyaksikan pemandangan itu saat berkunjung ke SD Negeri Tirtasari IV, Tirtamulya, Karawang, di sela-sela memberi pelatihan menulis bersama rekan-rekan Sahabat Gorga belum lama ini. Anak itu—Aziz namanya—bertubuh lebih besar dibanding kawan-kawan sekelasnya. Namun, sepengamatan saya selama di sana, Aziz tak berani melawan kawan-kawannya yang menjahilinya. Ia selalu mengalah, sementara kawan-kawannya makin leluasa menindasnya.

Sekilas, saya menangkap pesan tersirat bahwa teman-temannya menganggap Aziz anak yang aneh. Itu karena ia selalu menyendiri, dan sangat jarang berbicara pada teman-temannya. Tetapi kenyataannya, dalam berkreasi, Aziz tak kalah dari mereka. Perkara menyusun batu bata tadi, misalnya, teman-temannya tak bisa melakukannya sebaik yang ia lakukan. Itu saya ketahui ketika saya meminta mereka bertanggungjawab karena telah menumbangkan bangunan batu Aziz.

Berkilo-kilo meter dari Karawang, di SMP Kristen 1 Penabur, Jakarta, saya berjumpa dengan Njo Joceline, siswa kelas VIII (atau kelas 2 dalam istilah kita dulu). Anak perempuan berkaca mata ini selalu menunduk dan menjauh dari kerumunan kawan-kawannya. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun, kecuali pelan sekali, dan itupun hanya jika ditanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Saya harus mendekatkan telinga untuk bisa mendengar suaranya.

“Di kebon jeruk,” katanya, ketika saya bertanya di mana dia tinggal, untuk memancingnya menulis.

Seperti halnya Aziz, Njo juga dianggap aneh oleh teman-temannya. Dia dijauhi. Tak ada satupun temannya yang mendekati maupun mengajaknya bicara. Ketika kami memanggilnya untuk membacakan tulisannya, teman-temannya mengejeknya, tanpa rasa sungkan terhadap guru mereka dan kami sebagai tamu.

Namun, dibanding cukup banyak temannya, Njo juga tidak buruk dalam hal menulis meskipun awalnya sempat bingung. Dengan pantikan-pantikan sederhana melalui pertanyaan, dia rangkai kalimat-kalimat yang tak saya temukan pada tulisan anak-anak yang lain.

Dari pertanyaan ‘kamu tinggal di mana?’ tadi, Njo kemudian menulis begini (saya kutipkan secara verbatim):

Saya tinggal di Kebon Jeruk. Kebon jeruk itu bukan kebun, tetapi hanya nama jalan. Saya tidak tahu mengapa jalan itu disebut kebon jeruk. Yang pasti kebon jeruk letaknya tidak begitu jauh dari sekolah. Dari rumah saya, waktu perjalanannya kira-kira lima atau empat kilometer…

Selama kunjungan ke dua sekolah itu, saya tak bisa melepaskan perhatian dari dua anak itu. Aziz yang malang, yang menumpuk batu seorang diri, yang tetap tertawa saat teman-temannya menumbangkan tumpukan batunya. Njo yang sendu, yang tetap diam dan menunduk walau duduk bersama teman-temannya (hari itu, anak-anak SMP Kristen 1 Penabur sedang mempersiapkan wawancara dengan tokoh inspiratif yang akan mereka tulis biografinya; dan kami, kru Sahabat Gorga, diundang untuk membimbing mereka menggarap proyek itu).

Ada kejanggalan yang saya tangkap dari dua anak itu. Dugaan sementara saya: mereka mengalami tekanan yang terakumulasi selama masa tertentu.

Untuk kasus Njo, misalnya, saya tak percaya ketika guru dan teman-temannya bilang bahwa dia dididik dengan penuh kasih sayang dan cenderung cerewet ketika berada di rumah atau saat berselancar di media sosial. Bagaimana mungkin anak yang begitu pendiam (untuk tidak mengatakan tertekan) dan selalu menunduk, bisa cerewet saat berada di tempat lain?

Dugaan ini saya kira tak berlebihan. Pada akhir tulisan Njo tadi, saya menemukan kalimat ini: “…itu saja cerita dari saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah…”.

Buat apa meminta maaf untuk tulisan yang dihasilkan dalam pelatihan menulis? Saya menangkap, Njo barangkali sering dihukum—entah di mana dan oleh siapa—setiap kali berbuat salah. Dan saya kira hanya akumulasi yang begitu menumpuk yang bisa membuat seseorang sedemikian traumanya.

Tenang, saya tidak sedang mengusut faktor penyebab Aziz dan—terutama—Njo seperti itu. Saya juga tidak menyarankan pihak sekolah untuk menyelidikinya diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua mereka yang mungkin saja memberikan informasi palsu. Untuk sementara, saya terima saja pengakuan mereka yang mengatakan bahwa mereka telah mendidik anaknya dengan sangat baik.

Saya hanya ingin, bapak-bapak dan ibu-ibu guru lebih sering menengok mereka, anak-anak yang tersisih itu. Juga anak-anak yang membuat mereka tersisih, yang melakukan perundungan terhadap teman-temannya. Beri mereka porsi perhatian yang lebih dari anak-anak yang lain. Bukan untuk pilih kasih, melainkan semata untuk kebaikan mereka, jika memang bapak-ibu guru adalah guru yang baik. 

Saya kira, anak-anak seperti merekalah yang membutuhkan perhatian lebih, bukan anak-anak yang memang sudah cerdas dan menonjol dari sananya. Dan hanya itu yang dapat membuat bakat mereka keluar dari persembunyian. (*)

Abul Muamar

Lahir dan besar di sebuah desa dekat Sungai Ular. Suka mengintai ayam yang hendak bertelur dan ahli dalam membaca gerak-gerik ayam. Bercita-cita punya anak gadis cilik yang lincah dan cerewet.

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

One Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.