Merenungkan Kembali Arah Literasi Kita

oleh: Yona Primadesi

Siang itu, ketika saya kebagian tugas menjaga stan Sahabat GORGA, bapak Hamid Muhammad, mantan direktur jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, yang tengah berkeliling, datang menghampiri. Sembari menjabat erat tangan beliau, saya coba bertanya, semacam basa-basi atau sekadar ingin tahu apakah beliau masih mengingat saya. Dengan wajah sumringah dan ramah seperti biasanya, beliau menjawab hangat, ‘Tentu saja. Putrimu mana?’ Beliau lantas terlihat mencari (mungkin) sosok Naya, yang kebetulan sedang kelayapan di seputar arena festival.

Obrolan kami cukup panjang siang itu. Tentu saja topik utamanya perkara dunia literasi di Indonesia. Semua tampak baik-baik saja, setidaknya menurut saya, hingga kemudian beliau mengajukan pertanyaan, “Menurutmu langkah apa lagi yang harus kita ambil untuk meningkatkan kompetensi literasi anak-anak kita? Dan kira-kira, acara semacam ini perlu kita lanjutkan atau tidak?”

Pertanyaan beliau yang mungkin terlihat sederhana mengusik saya. Seketika saya teringat sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat acara pembukaan Festival Literasi Sekolah Nasional 2019 tersebut. Kira-kira begini, kegiatan semacam ini sudah tidak perlu diadakan lagi. Ada hal-hal yang lebih substansial daripada seremoni semacam ini. Lagipula, siapa bilang tingkat literasi kita rendah?  Pak Menteri menyambungnya dengan pernyataan jika beliau sebenarnya enggan datang ke acara tersebut. Saya tidak yakin apakah itu semacam seloroh atau kalimat satir belaka.  Tapi ada beberapa hal yang saya rasa perlu kita garis bawahi, renungkan, dan diskusikan sambil duduk bersama dengan berbagai pihak: akan ke mana literasi kita ini dibawa?

Sehari setelah acara penutupan festival yang saya pribadi nilai berhasil, saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa tak jauh dari gedung Kementerian, sebuah sekolah dasar, jangankan  memacu tradisi baca dan kecakapan  peserta didiknya, bahkan bahan bacaan yang layak pun mereka tak punya. Sungguh ironis. Padahal kita sesumbar dan mendaku jika bahan bacaan sudah terdistribusi merata melalui banyak gerakan dengan varian nama, yang sebagian di antaranya turut menghabiskan anggaran negara hingga miliaran rupiah. Atau komunitas dan gerakan yang mendaku telah bekerja bersama secara maksimal di setiap daerah, di setiap lini. Tapi bagaimana bisa sebuah sekolah yang jaraknya tak lebih 200 km dari pusat pemerintahan bisa mengalami situasi yang begitu menyedihkan? Saya tidak tahu berapa banyak sekolah atau berapa banyak anak-anak yang mengalami nasib serupa.

Sementara kita (juga termasuk saya) semakin sibuk dengan segala capaian dan indikator yang ujung-ujungnya semata agar Indonesia tidak lagi berada dalam posisi terburuk dan terpuruk oleh berbagai standar riset yang entah dilakukan oleh siapa. Apakah kegiatan kita sekadar perkara mendongkrak nilai-nilai dan capaian indikator tersebut? Atau kita memiliki tujuan yang jauh lebih manusiawi ketimbang sekadar menyebarkan buku, membaca buku, atau segala tetek bengeknya, yang ujung-ujungnya kembali lagi pada tingkat kalkulasi lembaga riset internasional?

Jika capaiannya semata standarisasi berbagai lembaga riset internasional, wajar jika pada banyak temuan praktik-praktik literasi yang dilakukan tak ubahnya semacam kegiatan gotong royong bersih-bersih parit. Semata gerakan yang insidental, panitiais. Ketika standar tersebut berhasil dilampaui, hip-hip huraaay! Hingga capaian literasi pada akhirnya tak jauh berbeda dengan gerakan melek aksara, pemberantasan buta huruf, atau sejenisnya.

Apa iya literasi sesempit itu? Kalaupun secara berjamaah kita mengamininya, mengapa banyak orang-orang yang mendaku penggiat literasi justru tidak paham membaca teks dengan benar. Dibikin makin runyam oleh ketidakmampuan  menulis atau mengeksternalisasikannya. Bukan semata euforia menandingi popularitas artis A atau public figur B dan melabeli semua tetekbengek itu dengan kata literasi.  

Semua terasa semakin mengganggu ketika tak lama berselang berbagai media ramai oleh pemberitaan pembersihan dan penyitaan buku oleh segelintir orang yang merasa paling tahu perkara apa yang boleh dan tidak boleh dibaca. Disusul pula pernyataan pihak kepolisian setempat yang dengan gagahnya menyatakan akan mengambilalih proses pembersihan tersebut dan melakukannya dengan lebih terstruktur. Sampai pada titik ini, setidaknya perlu kita tanyakan kembali sikap arogansi kita yang mendaku telah mampu membaca dengan baik. Bahkan membaca undang-undang dan peraturan-peraturan terkait pun kita masih gagu. Lantas, capaian seperti apa yang ingin kita raih dalam gerakan yang masif ini? Literasi apakah semata jargon?

Jika bukan, lantas di mana posisi kita, orang-orang yang mendaku lebih literat, yang mengaku paling depan untuk semua urusan literasi dan perbukuan, yang mengaku lebih paham perkara seluk beluk perbukuan, berada? Sikap kolektif seperti apa yang sudah kita ambil selain semata sesumbar dan memaki di media sosial, selain semata pamer foto buku dan aktivitas membaca, yang bukunya entah dipahami atau tidak?  Atau jangan-jangan salah satu indikator keberhasilan gerakan literasi ditandai dengan terbangunnya gerakan masal melalui media sosial yang hanya bisa pamer, nyinyir, hingga saling menyalahkan? Disayangkan sekali dan sia-sia belaka semua gerakan yang sudah dibangun berdarah-darah oleh teman-teman penggiat bertahun-tahun silam.

Sebelum saya mengakhiri tulisan saya ini, ijinkan saya mengulang dan mengembalikan pertanyaan pak Hamid Muhammad yang juga jadi keresahan saya, ke arah mana gerakan literasi ini akan kita bawa? Semata seremonial hingga skala internasional yang cukup dengan melibatkan segelintir kalangan elitis; pacu cepat perkara  distribusi dan penyebaran bahan bacaan tanpa evaluasi tingkat kebutuhan dan keterbacaannya; semua aktivitas yang selesai dalam sekali duduk; atau kerja bersama dalam posisi yang setara untuk membangun kesadaran kolektif bahwa literasi tidak selesai hanya pada urusan pengadaan, distribusi, atau membaca buku, sekeren apapun bentuknya? (*)

Yona Primadesi

Dilahirkan di Padang, Sumatera Barat. Sejak kecil hingga beranjak remaja sempat bercita-cita menjadi astronot. Lelah menjadi buruh, memutuskan untuk beranjak ke dunia kreatif. Salah satu founder Rumah Kreatif Naya, Sahabat GORGA, dan Penerbit GORGA. Bunda yang galak dan cerewet bagi Abinaya Ghina Jamela

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.