Mara dan Buku di Perpustakaan

oleh: Abinaya Ghina Jamela

Aku menaiki sepedaku, mendayungnya pelan. Aku sangat suka bersepeda, seperti ayah. Di perjalanan, aku memikirkan permen karet di kantung baju sekolahku. Aku juga memikirkan nama-nama teman sekolahku. Aku harus melakukan ini pada siapa? Aku mencoba mengingat satu persatu nama mereka. Aku ingat-ingat teman yang suka mencontek, yang tidak pernah mau meminjamkan mainannya padaku, yang tidak pernah mengembalikan bukuku, dan juga yang sombong dan menyebalkan. Tapi aku tidak menemukan nama yang tepat.

Lalu aku pikir, mungkin Iksa. Dia anak yang punya rambut paling bagus dan indah di sekolah kami. Rambutnya bergelombang, hitam pekat alami, hampir menyentuh pinggangnya. Aku suka memanggilnya, si hitam berbandana. Tentu saja bukan karena warna kulitnya melainkan rambutnya yang sepekat malam. Ia tidak pernah menguncir rambutnya. Ia tidak menyukainya. Rambutnya dibiarkannya saja. Iksa suka memakai bandana, seperti gadis di film The Litlle Prince. Ia berganti-ganti bandana setiap hari. Senin kuning, selasa hijau, rabu bergaris, kamis bulat-bulat, jumat pink, sabtu motif pita, seolah-olah dia punya toko bandana.

Aku tidak tahu mengapa Iksa tidak suka menguncir rambutnya. Mungkin jika dia menguncir rambutnya, Iksa akan semakin manis. Bisa jadi mamanya sibuk dan tak punya waktu untuk melakukannya. Iksa tidak mungkin menguncir sendiri rambutnya yang panjang itu. Pasti akan sedikit berantakan. Aku bisa tahu, karena aku perhatikan tangan Iksa kurang cekatan.

Tapi soal menguncir rambut, aku jadi ingat Mrs.Trunchbull. Bagaimana bisa ada orang dewasa yang menyiksa anak-anak seperti Mrs. Trunchbull hanya karena anak itu menguncir rambutnya. Apa mungkin Iksa membacanya, karena itu dia tidak pernah mau menguncir rambutnya yang panjang? Tapi aku tidak begitu yakin anak seperti Iksa suka membaca buku. Apalagi buku yang lumayan tebal.

Nama Iksa tiba-tiba terpikir olehku karena menurutku Iksa bisa dikategorikan sebagai anak yang sombong. Hmmm, tidak terlalu, tapi cukuplah. Setidaknya, aku punya nama dan aku punya alasannya. Aku sering memuji rambut Iksa. Tapi hanya di dalam hati saja. Aku tidak pernah mengatakan pada Iksa bahwa rambutnya bagus. Aku pikir, memuji anak-anak sedikit kurang bagus. Apalagi jika itu menyangkut rambut, hidung, mata, atau apalah. Anak-anak bisa cepat berbangga diri lalu menjadi sombong. Aku lebih suka cara ayah memuji atau mengkritikku.

Uma, jika kamu bisa menyelesaikan soal seperti ini lagi, ayah akan jadi laki-laki paling bahagia di atas dunia. Atau, Uma, rambutmu wangi sekali.  Apakah kamu menumpahkan semua isi di botol parfum ibu ke kepalamu? Atau, Ayah pikir kamu harus menggosok ulang gigimu, Uma.  Ayah tidak mau kamu jadi bahan tertawaan di sekolah. Aku tiba-tiba rindu Ayah. 

Aku mengayuh sepedaku. Aku merasa sedikit santai. Aku yakin tidak akan terlambat. Aku terbiasa menghitung perkiraan aku sampai di sekolah. Huuft, Rambut Iksa memang bagus. Jika kamu bertemu Iksa, kamu pasti akan berpendapat yang sama denganku. Sangat bagus. Aku yakin, semua ibu di Sunopa ingin anak perempuannya punya rambut seperti Iksa. Tapi rambut Iksa itu sering sangat menganggu dan menyebalkan.

Di sekolah, aku duduk di belakang Iksa. Aku sering kesal ketika Iksa sudah direpotkan oleh rambutnya. Menganggu dan merusak konsentrasi belajarku. Dia sibuk membelai rambutnya, merapikannya, membenahi bandananya, seakan-akan hanya itu pekerjaan yang bisa dia lakukan di bumi ini. Apalagi jika pelajaran olahraga. Iksa seperti tidak mau rambutnya rusak karena angin atau keringat. Dia sibuk membenahi dan melindungi rambutnya. Rambutnya seperti lebih berharga daripada mahkota ratu Elizabeth. Jadinya, kami selalu kalah setiap lomba lari beregu. Tentu saja, karena dia sibuk mengurusi rambutnya. Dia tidak mau rambutnya rusak. Bukankah menurutmu itu menyebalkan?

Tapi, setelah aku pikir-pikir, itu tidak bisa dijadikan alasan. Aku suka cara ayah mengatakannya, terlalu mengada-ada, Uma! Lagian, setelah aku ingat-ingat lagi, Iksa anak yang cukup baik. Dia baik padaku. Dia baik pada teman-teman. Aku pikir-pikir, Iksa bukan orang yang tepat untuk permen karetku.

Huuft, ternyata sulit juga! Oh tidak, bagaimana jika Mara? Ya, Mara pilihan yang cukup tepat. Dia anak perempuan yang tidak menarik. Aku pikir, hanya beberapa orang saja yang sadar bahwa ada anak bernama Mara. Aku pikir Mara dan permnen karetku serasi sekali. Lagipula, tidak akan ada yang merasa dirugikan. Ya, selain Mara.

Ugh, aku mual membayangkannya! Aku tidak yakin bisa mendekati Mara dalam jarak dekat. Mara cukup jorok. Rambutnya juga jorok, berantakan, dan banyak kutu. Iiih, aku jadi merinding! Yup! Mara adalah targetku hari ini! Aku mengayuh sepedaku lebih bersemangat. Aku ingin segera sampai di sekolah. Aku akan mencari Mara. Aku tahu harus mencarinya ke mana. Mara suka nongkrong di bawah pohon mangga di dekat toilet. Dia sendirian di sana.

Mara lebih suka duduk di bawah pohon mangga di belakang sekolah. Tidak ada yang bertanya apa yang dia lakukan di sana. Teman-temanku tidak peduli dan tidak mau tahu. Guruku? Ugh, jangan harap mereka akan bersusah payah menghampiri atau mengajak Mara bicara. Mungkin bagi semua orang, akan lebih baik jika tidak pernah ada Mara di Sunopa.

Aku beberapa kali memperhatikan Mara saat ke toilet. Dia asik membaca (atau pura-pura membaca, entahlah!). Aku tidak tahu apa yang dia baca. Sepertinya koran. Aku pikir Mara tidak suka membaca. Anak-anak tidak suka membaca. Tidak hanya Mara. Teman-temanku berpikir, membaca buku itu melelahkan, tidak mengasikkan. Tapi memang aku melihat Mara megang koran, beberapa kali. Dia juga terlihat memegang pensilnya dan seperti menuliskan sesuatu.

Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya di pintu perpustakaan. Sepertinya dia ingin masuk. Di sekolahku, tidak banyak anak-anak yang suka ke perpustakaan. Tentu saja Alinka wajah yang paling sering aku lihat di sana. Kadang aku bosan. Aku ingin bertemu teman lain di perpustakaan. Tapi itu sama saja seperti menunggu gajah di kebun binatang yang mempunyai telinga seperti Dumbo.

Saat itu, Mara sudah di pintu perpustakaan. Dia bersiap membuka sepatunya. Sepatu Mara sudah tua dan sangat jelek. Telapak sepatunya seperti mulut kuda nil yang menganga. Di beberapa bagian, sudah sobek. Kaus kakinya, aku tidak yakin itu berwarna putih. Sepertinya berwarna coklat muda, atau kekuning-kuningan. Entahlah, mungkin karena terlalu tua atau terlalu kotor. Jangan pernah kamu bayangkan pakaian sekolah Mara. Aku yakin, kamu akan berbaik hati memberikan baju sekolahmu pada Mara. Tapi entah kenapa, tidak ada orang yang melakukannya di Sunopa. Aku tidak, ibuku juga tidak. Mungkin aku harus segera bicara pada ibu, membeli beberapa pakaian, kaus kaki, dan sepatu sekolah.

Aku dan Alinka melihat ke arahnya. Itu pemandangan yang aneh. Dia mendekati meja ibu penjaga perpustakaan. Wajahnya seperti ketakutan. Tapi ibu penjaga perpustakaan tidak memedulikannya. Dia asik dengan handphonenya. Ketika Mara sudah berada di hadapannya, Ibu penjaga perpustakaan kaget. Ia melihat ke arah Mara. Tatapannya seperti tidak senang. Ia mengibas-kibaskan telapak tangannya di depan hidungnya.

“Huuuh, kamu bau sekali, Mara. Lihat, betapa kumalnya kamu! Perpustakaan bukan tempat untuk orang jorok sepertimu!” Kata ibu perpustakaan

“Saya hanya mau pinjam buku, Bu. Boleh? Satuuu saja.” Jawab Mara memohon.

“Yang itu, Bu….,” Mara menunjuk sebuah buku di rak, dekat meja ibu penjaga perpustakaan.

Aku berpandangan dengan Alinka yang duduk di sebelahku. Ibu penjaga perpustakaan tertawa.

“Apa? Kamu mau pinjam buku? Memangnya kamu bisa baca? Sudah, tidak usah aneh-aneh. Sana kembali ke kelasmu!” Ibu penjaga perpustakaan mengusir Mara. Mara keluar dengan wajah yang sangat sedih. Ibu penjaga perpustakaan menutup pintu perpustakaan. Aku dan Alinka hanya diam saja. Kami tidak melakukan apa-apa. Aku heran, ibu penjaga perpustakaan tidak mengijinkan Mara meminjam buku perpustakaan. Padahal semua siswa di Terbaik Sunopa boleh datang dan meminjam buku di perpustakaan.

Kutekan rem kuat-kuat. Aku mencoba menghentikan sepedaku. Aku ingin melihat sesuatu di dalam tas sekolahku. Sepedaku berhenti. Aku menuntunnya ke pinggir jalan. Aku tidak mau konyol diklakson orang-orang. Kuambil tas sekolah dari keranjang di depan stang. Aku harap aku membawanya hari ini, jangan sampai aku meninggalkannya. Jika tertinggal, rencanaku jadi lebih sulit. Aku membuka tas sekolahku. Memeriksa satu persatu buku yang aku bawa hari ini. Ahaaay, aku melonjak kegirangan. Buku itu ada di dalam tasku.

Buku yang ditunjuk Mara di perpustakaan ada di dalam tasku. Aku pura-pura meminjamkan buku itu padanya. Dia pasti senang. Setelahnya? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Itu akan jadi pengalaman luar biasa buatku. Aku sudah tidak sabar ingin sampai di sekolah dan mencari Mara. Aku ingin segera menjalankan rencanaku. Aku ingin mengabulkan permintaan ibuku. Aku mengayuh sepedaku kencang-kencang.

Abinaya Ghina Jamela

Lahir di Padang, Sumatera Barat. Saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 3. Suka menulis, membaca, dan ngomong-ngomong konyol. Senang sekali ketika diminta menjadi Tukang Liput Sahabat Gorga

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.