Dengarkan Mereka Sejenak Saja!

oleh: Yona Primadesi

He looks at me and sternly says,

“Your eyesight’s much too keen.”

“Stop telling such outlandish tales.

Stop turning minnows into whales.”

Di kepala saya kerap selintas muncul cerita dari buku, And to Think that I Saw It on Mulberry Street yang ditulis oleh Theodore Seuss Geisel, atau yang lebih dikenal dengan Dr. Seuss.  Buku tersebut  diterbitkan pertama kali pada tahun 1937,  kemudian diangkat ke layar kaca tahun 1944.

Di antara banyak karya yang pernah ditulis Dr. Seuss, And to Think that I Sawa It on Mulberry Street, memberi kesan tersendiri bagi saya: paling mengena, jika boleh saya katakan demikian. Cerita yang hanya terdiri dari beberapa puluh kata tersebut, secara tersirat menggambarkan relasi yang kompleks antara anak dan orang tua: seperti pengalaman saya, seperti pengalaman banyak anak dan orang tua lainnya,barangkali.

Setiap akan berangkat, ayah selalu berpesan pada Marco, ‘… keep your eyelids up, and see what you can see.’  Tetapi Marco kesulitan untuk bercerita pada ayahnya. Bukan karena dia tidak memiliki materi yang akan diceritakan, bukan juga karena ia tidak memperhatikan dengan saksama segala hal di sekitarnya. Melainkan karena ayah Marco meragukan semua cerita Marco. Ayahnya menganggap cerita Marco hiperbolik, tidak jujur. Hingga akhirnya Marco memutuskan untuk menjawab, ‘Nothing!”.

Sebagai anak, saya pernah mengalami seperti yang dialami Marco. Bahkan hingga usia saya hampir menuju empat puluh. Sebagai orang tua, saya tidak ingin mengulang hal yang sama. Saya tidak ingin memosisikan anak saya seperti Marco, seperti saya dulu. Saya juga tidak ingin memosisikan diri saya seperti ayah Marco. Memintanya belajar banyak hal, menceritakan banyak hal, tetapi saya tetap  merasa sebagai orang yang paling tahu, serba tahu, bahkan sok tahu atas dunia kognisi anak saya.

Tidak mudah untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Bukan karena mereka tidak mampu mengkomunikasikan apa yang mereka pikirkan. Melainkan sebagai orang dewasa, kita enggan melihat dari sudut pandang lain. Apalagi suara anak-anak berada dalam posisi termarginalkan, dianggap tidak memiliki peran siginifikan dalam kondisi sosial kemasyarakatan tertentu, hingga asumsi bahwa anak-anak belum mampu memahami kenyataan sosial sebagaimana adanya.  Sikap orang tua yang mempertanyakan otoritas anak tersebut, akan menyebabkan dua kemungkinan: anak tertekan di sepanjang proses perkembangannya atau anak terdorong untuk melakukan suatu tindakan. 

Seringkali superioritas sebagai orang tua membuat kita tidak memberi ruang yang cukup kepada anak untuk memahami sendiri kondisi sosial yang ada dan bagaimana mereka harus menempatkan diri di dalamnya. Kita terbiasa mengabaikan dunia alternatif yang coba dibangun anak dengan segala imajinasi yang mereka miliki. Sangat sulit menerima bahwa mereka melakukan itu semata sebagai petualangan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada, atau bentuk pembebasan diri. Mereka menganggapnya, bermain dan berimajinasi. Kita melebihkannya sebagai, membual hingga berbohong.

Ketidakpercayaan dan ketidaksungguhan orang-orang dewasa untuk merespon aktivitas anak yang mungkin terlihat sederhana, akhirnya memaksa Marco untuk menjawab sekadar, no thing! Padahal, Marco memiliki banyak sekali cerita di dalam benaknya, kaya imajinasi.

Pengalaman Marco dalam And to Think that I Saw It on Mulberry Street barangkali menjadi memori masa kecil kita, betapa anak-anak belum mendapatkan porsi yang cukup, bahkan untuk sekadar didengarkan. Mungkin terlalu sulit bagi orang dewasa, setidaknya menurunkan sedikit saja posisi pengetahuannya agar memiliki sudut pandang yang relatif sama dengan anak-anak. Barangkali juga menjadi sulit bagi orang dewasa sekadar mendengarkan cerita anak-anak denga sungguh-sungguh. Hanya mendengarkan! Hingga akhirnya dunia kanak-kanak itu berlalu dan tidak meninggalkan apa-apa, bahkan bagi kanak-kanak itu sendiri.

Yona Primadesi

Dilahirkan di Padang, Sumatera Barat. Sejak kecil hingga beranjak remaja sempat bercita-cita menjadi astronot. Lelah menjadi buruh, memutuskan untuk beranjak ke dunia kreatif. Salah satu founder Rumah Kreatif Naya, Sahabat GORGA, dan Penerbit GORGA. Bunda yang galak dan cerewet bagi Abinaya Ghina Jamela

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.