Ramadan yang Kurindukan

oleh: Anisa Purwan

Menjelang azan isya, teman-temanku berdatangan ke rumah, bersahut-sahutan memanggil namaku, ribut sekali. Setelahnya, kami berjalan bersama menuju masjid. Di perjalanan, satu persatu tetangga terlihat keluar dari pagar rumah mereka. Beberapa mengenakan baju koko dan mengalungkan sajadah di leher. Sekelompok remaja berselempang sajadah dengan kopiah terpasang miring, asik bergurau. Di belakang, ibu-ibu bermukena, berjalan beriringan. Suara azan berkumandang. Kami berlari, bersorak riang, menerobos tubuh-tubuh besar dan tinggi di hadapan kami.

Sesampainya di masjid, teman-teman laki-lakiku berhamburan menuju saf bagian depan. Sementara kami mengambil celah di antara jamaah perempuan. Salat dimulai, tapi di antara kami ada yang usil: menarik mukena, menyenggol teman di sebelah menggunakan siku, hingga menarik sarung hingga melorot. Kadang ulah usil itu tidak didiamkan saja. Kami saling berbalas usil.  Aku tak mau ketinggalan, membalas menyenggol, kadang menarik bawahan mukenah temanku hingga melorot. Aku merasa puas saat bisa membalas kejahilan teman-temanku. Aksi saling jahil itu pun selalu ditutup dengan cekikikan. Kami tidak peduli jika jamaah lain merasa terganggu.

Akibatnya, usai salat kami mendapat teguran. Tidak terlalu serius, sekedar berdesis ‘Ssstt..’, ada juga yang menoleh dengan mata menyeramkan tapi mulut terkatup rapat, atau terang-terangan memarahi kami.  Tentu saja refleks kami saling pandang, saling memberi kode, berdiri, membereskan sajadah, berjalan menjauh dari jamaah lain sambil bersungut-sungut. Kami pindah ke saf di bagian sudut masjid, mencari posisi aman. Tentu saja tidak berniat untuk serius melanjutkan salat, melainkan melanjutkan keusilan saling senggol, memiringkan badan ke kanan dan kiri hingga teman di sebelah dan barisan safnya roboh, dan tertawa cekikikan. Kami mendadak khusyuk begitu sadar sudah berada pada rakaat terakhir dan imam sebentar lagi mengucap salam. Satu dua jamaah melirik ke arah kami, merasa terusik dengan tingkah kami. Kami sigap memasang wajah lugu dan polos seperti anak-anak baik pada umumnya.

Ternyata trik itu tidak berhasil. Seorang ibu paruh baya setengah memaksa, meminta kami mengambil posisi salat persis di sampingnya. Kami tak berkutik dibuatnya. Ia mengawasi kami hingga tarawih usai. Hal semacam itu terus berulang. Kami seperti tidak pernah jera. Bercanda bersama teman-teman jauh lebih mengasikkan ketimbang khusyuk salat tarawaih atau mata tajam ibu-ibu di ujung saf. Dan ingatan itu mendatangkan kerinduan setiap kali Ramadan datang.

Anisa Purwan

Pemenang giveaway edisi Ramadan Sahabat GORGA, 27 Mei 2019.

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.