Perang Air

oleh: Mahfud

Di kampungku, di bulan Ramadan, saat malam merupakan medan perang. Selesai salat tarawih, aku dan kawan-kawan berkumpul di masjid. Bukan untuk tadarus, melainkan mengisi plastik-plastik kecil yang sudah kami kumpulkan sejak siang dengan air. Plastik berisi air itu kami jadikan sebagai peluru. Lawan kami tentu saja anak-anak dari kampung sebelah.

Siang hari kami berkawan seperti biasa, pergi sekolah, main sepeda. Tapi ketika salat tarawih usai, kami adalah musuh yang saling menyerang. Perang air dengan teman-teman dari kampung sebelah menjadi ritual hingga waktu sahur tiba.

Saat malam makin larut, kami berkumpul di lapangan desa. Tentu saja sebagai tanda bahwa perang dimulai. Kami sering kalah jumlah di setiap pertempuran. Akibatnya, kami kalang kabut. Berbagai strategi yang kami digunakan selalu gagal. Kami terbirit-birit dikejar lawan dari segala penjuru. Kami lari dan menghindar. Jika tidak, kami akan terkena peluru air dan basah kuyup.

Kami bersembunyi di mana saja, semak belukar, di atas pohon, di kebun salak. Sering kaki kami yang tanpa alas tertusuk duri atau benda-benda tajam lainnya. Kami seperti sangat ketakutan. Kami bersembunyi hingga sulit ditemukan. Permainan akan berakhir ketika waktu sahur tiba. Bersama-sama, kami berkeliling kampung membangunkan warga untuk bersiap sahur.

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.