Mengendarai Becak Mini

oleh: Ike Juliani

Setiap sore menjelang bedug magrib di bulan ramadhan, kampungku ramai oleh jasa penyewaan becak mini. Becak-becak itu hanya hadir setiap Ramadan. Tidak banyak jumlahnya, beberapa saja. Tentu saja momen sekali setahun itu membuat senang anak-anak. Bagaimana tidak, kami tidak lagi jadi penumpang, melainkan mengendarai becak, sendirian. Kami saling berebut agar bisa menyewa becak, mengendarainya berkeliling kampung. Tapi tidak semua anak bisa menikmatinya. Kadang, aku juga tidak kebagian menyewa becak. Maklum saja, peminatnya cukup banyak sementara becaknya hanya beberapa saja. Anak-anak bersemangat berburu becak sejak siang. Mereka antri ingin mengendarai becak mini. Sehingga ketika aku datang, jalur antrianku sering terpotong azan magrib dan waktu berbuka puasa.

Tapi suatu hari, aku berhasil berada di antrian awal dan menyewa becak. Namun, tak pernah aku bayangkan, pengalaman pertama naik becak sewa itu justru jadi pengalaman memalukan buatku. Aku sedang apes. Meski terlihat mudah, mendayung becak itu juga butuh ketrampilan. Malangnya, saat itu aku belum terlalu pandai mengendarai becak. Akibatnya, aku jatuh tersungkur. Tidak hanya tersungkur saja, aku masuk kekubangan sawah. Bajuku penuh lumpur, juga becak yang aku sewa. Orang-orang yang melihat kejadian itu, menertawakanku. Meski ada beberapa orang yang menolongku, tapi aku jadi malu bukan kepalang.

Ike Juliani

Pemenang giveaway Sahabat Gorga edisi Idulfitri 1440 H

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.