Kisah Orang-orang Suku Penda’u

oleh: Mohammad Ikram

Laki-laki itu tiba-tiba muncul dari sebatang pohon rotan, bertubuh besar, berkulit hitam, dan memiliki kepala yang cukup besar dari ukuran kepala manusia umumnya. Ia muncul dengan mengenggam sebatang emas di tangan kirinya. Ia berdiri tegak, menatapku, dan berjalan ke arahku. Aku bingung, cemas, juga takut. Apalagi cara berjalannya tidak seperti manusia pada umumnya berjalan. Aku mencoba melihatnya baik-baik. Aku bertanya dalam hati, apakah dia manusia, atau ….

Seko ma ngaile ra po sibena koro..” Laki-laki itu mengucapkan sesuatu. Tapi aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Menurutku, apa yang ia ucapkan tidak akan aku temukan di kamus. Ia terus berjalan mendekatiku. Ketika ia sampai di hadapanku, ia menatapku. Aku tidak mengerti apa-apa. Tapi anehnya, tiba-tiba rasa takutku menghilang. Laki-laki itu mengucapkan kembali kalimat yang sama, berulang-ulang.

“Aku tidak tahu bapak bilang apa. Aku bisa bantu Bapak apa?” tapi sepertinya dia juga tidak mengerti ucapanku. Dia hanya mengulang-ulang kalimat yang sama dan menatapku. Aku melihatnya baik-baik, sepertinya dia mengharapkan sesuatu dariku, seperti meminta pertolongan. Tapi ada yang aneh dari matanya. Bola matanya seperti sebutir kelereng hitam besar yang makin lama seperti akan melompat dari matanya.

Rasa takutku kembali datang. Aku memutuskan untuk lari sekencang-kencangnya. Gunung itu sangat terjal. Aku hampir terjatuh dan berguling-guling. Sambil berlari, aku mencoba melihat lagi laki-laki itu. Dia masih mengkutiku, tapi langkahnya melambat.

Di rumah, aku menceritakan kejadian itu pada kakekku. Kakekku kaget. Kakek mengatakan bahwa laki-laki yang aku temui tadi adalah nenek moyang orang-orang Penda’u. Orang-orang di kampung percaya suku Penda’u adalah keturunan dari mahkluk yang keluar dari sebatang pohon rotan, sama seperti yang aku lihat di gunung tadi.

“Dulu orang-orang percaya bahwa suku Penda’u itu bukan manusia, karena mereka muncul dari pohon rotan. Bentuk tubuh mereka juga tidak seperti orang-orang di kampung ini. Badan mereka besar dan kekar, kepala mereka juga besar. Mereka tidak bisa bicara seperti kita bicara. Karena orang-orang takut dan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan yang lain, mereka memilih tinggal di pegunungan yang tinggi. Hanya saja, lama-kelamaan keturunan mereka terus beradaptasi. Lama kelamaan, orang-orang Penda’u sudah seperti kita. Tapi mereka tetap memilih untuk tinggal di gunung-gunung. Jarang yang melihat dan bertemu mereka,” kakekku bercerita.

Aku lalu masuk ke kamar. Aku masih memikirkan laki-laki tadi dan orang-orang Penda’u yang diceritakan kakek. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka.

Tiba-tiba tubuhku terasa ringan. Aku seperti melayang. Aku melihat ke bawah, kakiku sudah tidak menyentuh lantai. Aku terus melayang hingga kepalaku terantuk loteng. Sakit sekali. Aku tiba-tiba jatuh, terlempar ke lantai. Badanku terasa sakit, aku kembali ketakutan.

Tiba-tiba aku terbangun. Rupanya aku baru saja bermimpi. Aku bermimpi tentang laki-laki dari suku Penda’u. Aku harus segera menanyakannya pada kakek.

Mohammad Ikram

Mohammad Ikram siswa kelas XI IPA 3, SMAN 1 Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi, Sulawesi Tengah. Peserta Pelatihan Menulis Kreatif bersama Sahabat GORGA yang diadakan oleh FTBM Parigi Moutong dalam rangkaian Kemah Kerja Literasi 2019

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.