Puisi Anak

Rumahku

Rumahku adalah tempat tinggalku Rumah adalah tempat kuberlindung Panasnya matahari dan derasnya hujan adalah teman rumahku Ia seperti meja yang membuatku sederhana Rumah adalah penolong

Jagalah Bumi

Jagalah bumi ini seperti kau menjaga barang kesayanganmu. Bumi juga bisa menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata. Bumilah yang telah memberi makan dan minum meski tak

Ketika Gunung Merapi Meletus

Pagi itu, gunung Merapi meletus. Anak-anak berlari ketakutan. Orang-orang berlari ke pengungsian. Sementara ada yang masih tertinggal di sana. Banyak orang menangis. Mereka menangis ketakutan.

Mengantar Orang-orang

Aku ingin menjadi pilot karena pilot bisa mengantar orang-orang ke tempat yang dituju dan menurunkan penumpang di tempat itu. Aku ingin sekali naik pesawat. Aku

Ibu

Kerja kerasmu itu seperti matahari yang bersinar sangat terang. Aku akan meneteskan air mata karena senang. Kesenanganku itu seperti bulan yang bersinar. Dan senyummu itu

Ayah

Kulitmu seperti kulit pohon rambutmu mulai memutih seperti awan bergelombang engkau semakin kurus kau berjalan kaki saat berangkat kerja tanpa lelah. Ayah, kuberdoa untukmu semoga

Memancing

Setiap hari aku memancing ikan Di sungai ikan melompat-lompat setiap hari Aku memancing ikan bersama teman-teman Setiap hari aku dapat banyak ikan Jadinya setiap hari

Truk

Itu sebuah mobil truk Itu mobil truk Wijaya Putra Truk itu mengangkut pasir membawanya dari sungai Truk itu melewati hutan yang banyak pohonan besar dan

Perang

Ada perang Ada roket Ada tank Ada orang-orang yang terjun menggunakan parasut dari pesawat Ada asap di langit Mobil tank menembak burung, menembak semua yang

Musim Gugur

Saat musim gugur, daun-daun berguguran warnanya juga berbeda, tidak seperti daun-daun musim semi. Warnanya jingga tua. Saat musim gugur, langit berwarna biru seperti kolam ikan