Ramadan tiba, tapi Sudul tidak bersemangat seperti teman-temannya. Bagi anak-anak, Ramadan artinya lebih banyak waktu bermain bersama teman-teman: menyalakan kembang api, tarawih dan tadarus barengan, tidur di masjid, makan bersama, dan masih banyak hal asyik lainnya. Sudul khawatir, orang tuanya tidak akan pernah memberinya izin bermain seperti teman-temannya.

Sudul tidak seperti teman-temannya. Orang tuanya memaksanya untuk belajar lebih banyak. Kata mamanya, kamu harus lebih hebat dari teman-temanmu! Mama tidak suka jika nilaimu sama seperti mereka. Kamu paham itu, Dul! Sebenarnya Sudul sedikit tertekan dengan tuntutan orang tuanya. Dia tidak punya waktu yang cukup untuk bermain. Hari-hari Sudul lebih banyak dihabiskan untuk membaca buku pelajaran atau mengerjakan soal-soal ujian.

Sudul pernah diam-diam keluar rumah. Mamanya menyuruhnya tidur siang agar malamnya dia bisa belajar dalam kondisi bugar. Tapi ia mendengar teriakan teman-temannya yang asyik bermain. Sudul tergiur untuk ikut bermain. Ia mengendap-endap keluar lewat jendela kamarnya. Sesampai di pekarangan, dia berlari sekencang-kencangnya.

Malangnya, Sudul dipergoki mamanya. Ia cemas. Sudul yakin ia pasti dimarahi. Sudul menunduk, tidak tahu harus berbicara apa. Mamanya marah. Mamanya menjewer telinganya, menariknya masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, Sudul diberi pukulan keras dari kepala ikat pinggang milik papanya. Kepala ikat pinggang itu terbuat dari besi yang cukup besar. Mamanya memukulnya kuat sekali. Sudah pasti berbekas di pinggangnya. Ia kesakitan. Tapi Sudul tahu ia tidak boleh menangis. Tidak hanya itu, Sudul juga dihukum dikurung di kamar mandi. Dia tidak boleh keluar sampai adzan magrib terdengar.

Rasanya sungguh tersiksa, harus belajar setiap hari, sementara ia mendengar teriakan gembira teman-temannya. Sudul mendengar ketukan di jendela kamarnya. Sudah jam sembilan malam, siapa yang mengetuk? pikirnya.

“Dul! Ayo keluar! Kita tadarusan, Dul. Mumpung makanan di masjid belum habis! Enak-enak lho, Dul!”

Itu suara Ikhsad, teman Sudul. Sudul membuka jendela. Ternyata benar, Ikhsad dan teman-temannya yang lain berkerumun di bingkai jendela kamarnya. Sudul menghampiri jendela dengan gembira.

“Pssttt, kalian jangan berisik, nanti mama dan papaku dengar!” bisik Sudul pada teman-temannya. Semua temannya langsung memelankan suara mereka.

“Sad, menurutmu tidak apa-apa aku ikut? Aku takut ketahuan mama. Kalau ketahuan, aku pasti dihukum.” Ikhsad mengangguk, ia terlihat seperti berpikir. Teman-teman Sudul yang lain juga berpikir.

“Sudah, tidak usah khawatir. Kamu ikut saja. Nanti kamu nggak usah tadarusan pakai mik. Kamu makan aja. Nanti sebelum jam sepuluh, kami antar kamu pulang. Bagaimana?” Ikhsad memberi Sudul tawaran. Sudul tergoda. Dia mengangguk setuju. Sudul mengambil sarung dan peci dari lemari. Dia meloncat keluar jendela. Sudul dan teman-temannya berjinjit pelan meninggalkan rumahnya. Mereka harus memanjat pagar belakang rumah Sudul yang cukup tinggi.  Sudul tidak peduli jika harus ketahuan dan dimarahi mamanya lagi. Dia hanya ingin bermain bersama teman-temannya.