Giliran Pidil tiba. Tangannya gemetaran, gelisah mencari-cari titik henti bacaan. Ia balik-balik halaman.

“Sampai mana tadi?” ia berbisik bertanya pada kawan di sebelahnya.

“Dari tadi tak kau simak?” kata Buya Usman, yang karena suasana mendadak hening, dapat mendengar pertanyaan Pidil.

Pidil tertunduk malu. Dahinya basah oleh keringat. Mulutnya kecap-kecap karena kue gelang pulut hitam masih menempel di gigi-gigi gerahamnya.

“Ini,” kata Sangkot berbisik pula, sambil menunjukkan jarinya di lembar Alquran punya Pidil, “sampai fabiayyi yang ini.”

Pidil pun membaca dengan terbata-bata. Berulang kali bacaannya dikoreksi oleh Buya Usman. Tiap kali dikoreksi, tiap kali itu pula bacaannya makin belepotan.

“Fabiayyi aalaa…”

“Fabiyyi aalaa….”

Lamanya Pidil membaca membuat anak-anak lain mengantuk. Sementara untuk mencomot kue yang ada di tengah-tengah lingkaran, mereka segan. Buya Usman tampak sedang serius menyimak Pidil, dan itu membuat mereka terpaksa pura-pura menyimak. Mereka cuma bisa melirik makanan di hadapan mereka.

Pidil memang anak yang cingkal. Di balik wajahnya yang lugu, terutama karena matanya yang selalu tampak seperti orang mengantuk, otaknya selalu bekerja dengan licik. Ia tinggal dekat langgar. Rumahnya hanya dipisahkan oleh dua rumah tetangganya. Di bulan Ramadan, ia rajin salat tarawih. Meski sambil main-main, ia selalu datang ke langgar. Tapi, untuk tadarus, ia jarang ikut. Ia hanya akan ikut kalau tahu makanan untuk anak-anak tadarus enak-enak.

Setiap malam, selepas tarawih, memang selalu ada orang yang menyumbang makanan ke langgar. Kadang-kadang tukang gorengan, kadang tukang martabak, kadang pula warga sekitar langgar yang bukan pedagang makanan, turut menyumbangkan makanan bikinan mereka sendiri. Yang paling sering adalah tukang kue basah.

Malam itu, di tengah-tengah lingkaran anak-anak laki-laki yang berjumlah sepuluh orang itu, tersaji kue naga sari, kue gelang pulut hitam, klepon, ombus-ombus, kue lapis warna-warni, apem kepala parut, dan kue dadar. Tak cuma itu, ada pula mi balap yang masih hangat. Entah siapa yang memberi, anak-anak itu tidak tahu. Yang pasti, mi balap itulah yang membuat peserta tadarus lebih ramai malam itu.

Lebih dari setengah jam, pembacaan Pidil akhirnya selesai. Buya Usman bangkit lebih dulu. Sebelum pulang, ia berpesan kepada anak-anak, “Kalian lanjutlah sendiri ya. Perut Buya mulas.”

Begitu guru ngaji mereka itu keluar dari langgar dan sosoknya tak lagi terlihat, bukannya lanjut mengaji, anak-anak itu langsung menyantap mi balap itu ramai-ramai. Kue-kue basah yang ada di sampingnya mereka abaikan. Tak sampai lima belas menit, mi itu habis. Bersih tak bersisa.

“Besok datang lagi, woy. Besok ada mi balap lagi. Dan ada martabak juga,” kata Pidil.

Teman-teman Pidil tak bertanya dari mana ia bisa tahu. Mereka yakin saja karena memang demikianlah kenyataannya selama ini kalau Pidil yang bilang. Karena itu, sebagian dari mereka yang biasanya langsung pulang begitu tarawih selesai, akan ikut tadarus kalau tahu Pidil ikut tadarus.

Selesai makan, anak-anak itu kekeyangan. Mereka tidur di dalam langgar. Beberapa jam kemudian mereka akan berkeliling kampung, membangunkan warga untuk sahur. (*)