Aku dan teman-teman sepakat, besok setelah zuhur kami berkumpul di bawah pohon jambu belakang rumahku. Kami akan mencari bambu. Kami sudah menyiapkan peralatan yang perlu dibawa. Kami akan membuat meriam sebelum puasa.

Sepulang dari sekolah aku menunggu teman-teman di atas pohon jambu. Debi datang pertama. Ketika datang ia tidak menyadari keberadaanku. Kulihat ia celingak-celinguk. Ia terkejut ketika aku melemparnya dengan jambu yang kugerogoti. Aku duduk di dahan yang menjulur ke selatan melintasi sungai di bawah. Tak lama Deni menyusul, membawa gergaji milik bapaknya. Ia tersenyum dan menunjuk mata gergajinya pada kami. Lalu Dian datang, dengan parang yang biasanya digunakan bapaknya untuk mencari pakan sapi.

Ketika bermain meriam, kami biasanya membagi kelompok menjadi dua. Pembagian ini berdasarkan keberadaan rumah kami, RT 03 dan RT 04. Tahun-tahun yang lalu kami selalu berdelapan. Tapi kali ini kami cuma berempat.

Beneran, anak-anak RT tiga nggak jadi ikut?” aku bertanya pada Dian.

“Mereka tidak ikut, katanya mereka pulang sekolah mau main game di warnet.”

Dulu, di desa  kami banyak sekali bambu. Biasanya di tiap rumah pasti tumbuh pohon bambu. Entah sengaja ditanam atau tumbuh sendiri, aku tidak tahu. Orang-orang di desaku sering menggunakan bambu, entah itu untuk membuat kandang, bahan bangunan, atau kerajinan. Tapi itu dulu. Kini semuanya sudah dipangkas. Sudah banyak rumah yang dibangun. Jadi kami harus berjalan ke luar desa untuk mendapatkan bambu. Kami harus berjalan ke selatan melewati pematang selama setengah jam untuk bisa sampai di Sungai Jonilo. Di sana bambu-bambu petung tumbuh rimbun. Sungai Jonilo lebar dan dalam, tentunya gelap karena dipenuhi pohon bambu. Menurut cerita kakek, dulu banyak kera di sana.

Gemerisik daun bambu menyambut kami. Mata kami langsung terpana. Bambunya besar-besar sekali. Belum memotongnya saja aku sudah membayangkan suara meriam yang begitu menggelegar. Aku dan teman-teman menelisik rimbunan bambu untuk mencari bambu yang besar dan lurus. Selain itu kami juga harus memilih bambu yang tidak terjepit supaya mudah dipotong.

“Yang ini, teman-teman! Mantap ini! Pasti nyaring suaranya,” usulku.

“Jangan, itu masih muda! Kita harus cari bambu yang tua. Bambu yang tua suaranya lebih nyaring dan batangnya lebih kokoh,” kata Deni.

Dalam urusan memilih bambu, Deni lebih ahli. Ia belajar dari bapaknya. Ia  menempelkan telinganya sambil mengetuk-ngetuk dengan jari untuk mengetahui bambunya gapuk atau tidak. Bambu yang gapuk akan menghasilkan suara yang fals karena retak, sekalipun retakannya kecil.

Pemilihan bambu memerlukan waktu lumayan lama. Kami bahkan sampai keluar masuk celah bambu dan turun ke sungai. Tak ada air yang mengalir karena musim kemarau. Hanya guguran daun bambu menyelimuti sungai. Kami harus tetap waspada. Yang kami takuti bukan pemilik bambu, tapi ular. Rimbunan bambu itu tak ada pemiliknya karena mereka tumbuh liar di sungai. Meskipun begitu kami tetap minta izin kepada penunggunya sambil melafalkan doa-doa yang kami tahu. Kami takut, jika tidak minta izin, penunggunya akan marah dan mengikuti kami sampai rumah.

“Terima kasih ya, Mbah,” kami bicara ke arah rimbunan bambu sebelum mulai menebang. Setelah itu Deni mulai menggergaji pangkal bambu. Kami bertiga memegangi batangnya untuk menjaga arah jatuhnya.

Kami pulang membopong dua batang bambu. Selain berat, bulu-bulu bambu juga menempel di badan kami. Gatal sekali rasanya. Namun itu tidak masalah. Terpenting kami bisa pulang bawa bambu yang besar. Kami sembunyikan bambu itu di bawah kandang ayam milikku, lalu kami tutupi karung.

Esoknya pembuatan meriam dimulai. Setelah menghitung empat ruas, Debi kemudian memotongnya. Satu bambu harus dibuat oleh dua orang. Kemudian bambu yang sama tingginya dengan tinggiku itu aku berdirikan. Setelah itu, Debi mengambil linggis. Linggis itu ia tancapkan ke dalam bambu. Pembatas ruas dalam bambu satu demi satu ia pecahkan, kecuali pembatas ruas pangkal yang paling bawah.

Siang itu matahari mulai menetaskan keringat di tubuh kami. Tonggeret mengusir sepi dari balik dedaunan. Debi mengambil gergaji lagi. Sekarang tinggal membuat lubang perapian. Debi menempelkan kelima jarinya di ruas pangkal. Mengukur jarak pangkal dengan lubang perapian tak boleh terlalu dekat dan terlalu jauh. Lubang itu untuk memasukkan minyak tanah dan memantik api. Ia membuat lubang perapian seukuran dadu, supaya apinya tak melebar ketika dipantik.

“Ambil minyak tanah, Yan,” pintaku kepada Dian.

“Tidak ada. Ibuku masak pakai kompor gas,” jawab Dian.

Di rumahku juga tidak ada minyak tanah. Debi dan Dian di rumahnya juga sudah tidak memakai minyak tanah lantaran orang tua mereka juga sudah memakai kompor gas untuk memasak. Kami pusing. Kami memutuskan untuk patungan. Setelah uang terkumpul, kami lantas mencari minyak tanah. Tapi rupanya sulit sekali menemukan minyak tanah.  Semua warung kami datangi, tapi tak satu pun yang menjual minyak tanah. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami menemukan satu pangkalan minyak tanah di desa tetangga yang jaraknya lumayan jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki. Dan harganya pun sangat mahal, tiga kali lipat dibanding seliter bensin kendaraan. Tapi, demi bisa bermain meriam, kami tetap membelinya. Tak peduli kami bahwa setelah itu kami tak bisa jajan.

Begitu minyak tanah diperoleh, kami langsung memainkan meriam yang sudah kami buat. Kami mengambil tempat masing-masing. Aku di bawah pohon pisang bersama Debi. Sementara Dian dan Deni di atas batu. Aku membuat penyangga untuk meletakan ujung bambu lebih tinggi. Bambu meriam perlu waktu cukup lama untuk panas. Aku berulang meniup asap  yang ada di dalam bambu. Meniup asap membuatku cukup haus, tapi aku harus tetap  berpuasa. Di awal, bunyi di dalam bambu mirip seperti rebusan air. Aku juga sesekali memanasi bambu dari bawah dengan api. Semakin panas bambunya akan semakin cepat berbunyi.

Bambu Debi sudah mulai berbunyi. “Belanda sudah dekat! Serang! Kalian lama sekali!” katanya, mengejek kami.

Tak lama kemudian meriam kami semua sudah berbunyi. Siang itu kami bergantian tembak-menembak. Kami beradu nyaring. Konon, dulu kata kakek, meriam bambu digunakan untuk mengusir penjajah. Ketika para laki-laki ikut berperang, ibu-ibu akan menjaga rumah dengan memakai meriam bambu.

 Di tengah-tengah keasyikan kami bermain, tiba-tiba seseorang datang marah-marah. Dia Budhe Jumiah, tetangga sebelah rumahku. Katanya, kami berisik. Siang hari anak-anak seperti kami sebaiknya tidur, katanya lagi. Orang dewasa memang tidak seru dan mudah terganggu.

Kami langsung kabur sambil membawa meriam kami. Minyak tanahnya bertumpahan ke mana-mana. Tangan kami kepanasan memegangi meriam yang masih panas. Kami nekat karena tak mau meriam kami dirusak oleh Budhe Jumiah.

Esoknya kami menyusun rencana. Moncong meriam kami arahkan ke rumah Budhe Jumiah. Deni mengusulkan, “Ayo, kita pakai karbit biar suaranya lebih menggelegar.”

Kami setuju. Kayu pemantik yang kami gunakan kali ini lebih panjang, untuk menghindari sambaran api. Dengan karbit, bambu jadi lebih cepat panas. Meriamku kubunyikan paling pertama. Menggelegar. Bambunya sampai berguncang, bahkan tanahnya juga ikut bergetar.

Siang itu suara meriam membelah langit. “Dwaaaar!!!”. Meriam Debi sampai terbelah menjadi dua. Dia meloncat ke belakang sambil menutup telinga. Kami semua tertawa. Kemudian gantian meriam Dian yang terbakar. Rambutnya hampir ikut terbakar. Yang tersisa tinggal meriamku dan meriam Deni. Musuh kami pun akhirnya datang. Budhe Jumiah berteriak-teriak sepanjang jalan menuju ke tempat kami. Kali ini dia marah besar. “Tak laporin Pak Lurah kalian ya, anak nakal!”

Ketika Budhe Jumiah mendekat kami pun kompak berlari sambil berteriak. “Puasa itu yang sabar! Puasa kok marah-marah, nanti batal!”