“Dek Nurul kelas berapa sekarang?” Tanya Bude ketika kami berkumpul di rumah simbah saat lebaran.
“Kelas lima” Jawabku mantap.
Seketika raut muka bude terlihat keheranan. Semacam ada hal aneh dengan jawabanku.

Setiap lebaran, kami selalu berkumpul di rumah Bude. Tentu saja yang paling kami harapkan, para keponakan Bude, adalah amplop THR dari Bude setelah kami bermaaf-maafan. Anak kecil mana yang tak mau dapat uang jajan lebih sekali setahun, itu. Tapi sayangnya, tidak semua keponakan bisa mendapatkan THR. Hanya untuk anak-anak saja, begitu selalu jawab Bude setiap kakak-kakak sepupuku ikut antri. Hanya saja, definisi anak-anak itu kadang tidak dilihat dari usia atau kelas di sekolah. Melainkan tinggi badan. Tentu saja aku yang berpostur agak tinggi dan besar, sering merasa dirugikan.

“Lho tak kirain sudah SMP. Pernah tinggal kelas apa, bulek?” Bude lantas mengonfirmasi pada Ibuku. Bude seakan tak percaya bahwa aku masih duduk di kelas lima sekolah dasar.
.
Ah, kalian yang berbadan bongsor sepertiku pasti paham bagaimana perasaanku ketika mendengar pertanyaan itu. Saking seringnya kejadian seperti itu, momen lebaran dan berkumpul dengan keluarga besar menjadi semacam hal yang menyebalkan buatku.
.
“Aku juara kelas terus tau!” Jawabku sambil berteriak pada bude dan berlari ke teras rumah Bude.