Pundung dan Ambo sepasang suami istri yang tinggal di sebuah desa yang belum bernama. Rumah mereka terletak di tepi sungai. Karenanya, mereka menggantungkan hidup mereka pada aliran dan ikan sungai tersebut.

Hidup mereka yang awalnya tenang dan damai, seketika berubah oleh suatu kenyataan. Air sungai itu mengering. Sang suami mulai masuk hutan dan mencari buah-buahan yang bisa dimakan.

Adoh ranga mo makan apa sudah torang ini eee..??” ujar sang suami sambil berjalan-jalan mencari sesuatu yang dapat dimakan. Tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Nelayan itu lalu berpikir, tidak mungkin menggantungkan hidup pada hutan. Sebab hampir sebagian besar hutan  telah ditebang dan jadi gundul karena tangan manusia yang tak bertanggung jawab.

Makanan mereka semakin tidak memadai. Tubuh mereka jadi kurus kering. Sudah tiga hari mereka tak makan. Nelayan itu lalu memutuskan pergi ke muara sungai. Sekadar melihat keadaan sekitar, barangkali ada sesuatu yang bisa dimakan. Meski sedari kemarin di sekitar muara ia tidak menemukan seekor ikan pun.

“Wey!”

Sebuah suara mengejutkan nelayan tersebut. Ia memalingkan wajahnya ke berbagai arah, namun tak ada siapa-siapa di sana.

“Balia ka bawah sini ee… !” seru suara tersebut.

Sang Nelayan menoleh ke bawah. Ia melihat seekor ikan yang belum pernah dilihatnya sebelum itu. Dia sudah menemukan dan menangkap banyak jenis ikan, tapi ikan yang satu ini, baru kali ini dia lihat. Ikan itu sebesar telapak tangannya. Sisiknya berwarna merah kecokelatan, matanya berwarna merah menyala. Nelayan itu sedikit ketakutan, tetapi ia mencoba menyembunyikannya.

B-Bisa ba bicara ngana?” tanya nelayan tersebut.

Bisalah!” sela ikan tersebut.

“Astaga… baru ikan apa dan ngana ini?” nelayan itu kembali bertanya. Ia penasaran.

Teusah ba pantoa.. Sa tau kau ini ada masalah toh?”

Nelayan itu terkejut, ‘ini ikan juga, so macam yang butul punya tetau barangkali dia tau dari mana su tau??’Nelayan itu mengangguk.

Saya kasi tau dorang… Saya bisa tolong, tapi kau harus janji bisa ba rawat alam di sekitar sini,” ikan itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan.

Tapi minta tolong juga saya, kase pindah saya ke tempat asal saya di sungai,” ikan itu mengakhiri kalimatnya.

Nelayan itu mengangguk setuju. Ia membawa ikan tersebut ke sungai. Ikan tersebut memerintahkan sang nelayan untuk meletakkannya di tengah sungai. Ikan itu berenang menjauh.

Tak lama berselang, entah bagaimana caranya, air sungai itu kemudian meluap. Sang nelayan bersuka cita. Dipanggilnya istrinya.

“Pundung!! Kamari dulue!! Co lia capaat!!!!”

Sang istri segera keluar dari dalam rumah. Ia tersenyum melihat keajaiban tersebut. Nelayan itu berlari ke pinggir sungai. Ia memanggil ikan tersebut. Namun ikan itu tak kunjung keluar.

Nelayan itu kemudian menamai desa tempat mereka tinggal dengan Malakosa. Malakosa berasal dari kata umala, artinya sungai, dan kosa, yang berarti ikan.